Kisah tragis percintaan
GAMEBOY:
Sebuah Komedi (Eror) Romantis
Oleh: AnsiL
Bab 1: Like the movies
Aku selalu membayangkan pertemuan pertamaku dengan 'Sang Tokoh Utama' akan terjadi di toko buku tua atau saat berteduh di bawah rintik hujan, persis seperti lirik lagu Laufey yang sering kuputar. Tapi nyatanya, semesta punya selera humor yang jauh lebih unik. Sore itu, takdirku tidak ditentukan oleh seikat bunga, melainkan oleh sebuah ember plastik yang hilang. Dengan nyali yang dipaksakan, aku menyelinap ke toilet pria yang gelap dan sepi, mencari benda itu ke setiap bilik. Namun, di sudut yang paling remang, aku tidak menemukan ember. Aku justru menemukan sepasang mata yang sama terkejutnya denganku. Detik itu, di tengah aroma pembersih lantai dan cahaya yang temaram, kami berdua tertawa karena rasa kaget yang konyol. Aku berlari keluar dengan jantung yang berdegup tidak keruan, tanpa tahu bahwa tawa di toilet itu adalah melodi pembuka dari sebuah lagu yang suatu saat akan kusebut: Gameboy.
Bab 2: Butterfly era
Beberapa hari kemudian, kantorku mendadak terasa seperti markas intelijen. Atasanku, yang tiba-tiba merangkap jadi makcomblang, membisikkan berita utama: "Anak yang di toilet itu nanyain nomor WA-mu." Aku berusaha tetap terlihat profesional, tapi di dalam hati, aku sedang melakukan selebrasi juara dunia. "Kalau mau, suruh minta langsung," kataku dengan sisa-saran angkuh yang masih kupunya.
Minggu-minggu berikutnya adalah fase paling melelahkan untuk otot pipiku. Setiap kali berpapasan, aku mendadak jadi atlet jalan cepat, mencari tempat kosong hanya untuk salting sendirian. Aku bisa tersenyum menatap tembok hanya karena teringat senyumnya. Rasanya gila, aku yang biasanya sulit akrab, mendadak merasa dunia ini penuh dengan filter bunga-bunga.
Bab 3: Matahariku
Puncaknya adalah ketika pesan itu masuk: "Maaf ya, baru chat. Aku malu."
Malu? Seorang pria yang tingginya hampir menyentuh plafon ini malu? Aku luluh seketika. Kami mengobrol seolah sudah berteman sejak zaman prasejarah. Tidak ada jaga image, tidak ada kepura-puraan.
Sehari sebelum kata 'Jadian' itu resmi terucap, aku menyanyikan "You Are My Sunshine" versi Christina Perri untuknya. Aku sungguh-sungguh berpikir dia adalah matahariku yang akan mengusir mendung. Ternyata, aku lupa kalau matahari juga bisa membakar jika kita berdiri terlalu dekat tanpa pelindung.
Bab 4: Ilusi
Baru beberapa hari jadian, aku sudah diarak ke rumahnya seperti piala kemenangan. "Keluarganya bilang cuma dia yang belum pernah bawa pacar," bisik sebuah suara di kepalaku. Saat itu aku merasa spesial, merasa menjadi jawaban dari doa-doa keluarganya. Aku disambut dengan hangat oleh ibunya, aku memakan ilusi yang disajikan dengan sangat rapi. Aku tidak sadar bahwa aku sedang memerankan karakter 'Pacar Pameran' agar dia tidak lagi digoda oleh keluarganya, sementara di ponselnya, ada narasi lain yang sedang ia susun untuk wanita lain.
Bab 5: Skakmat, Gameboy!
Kebenaran itu datang tanpa mengetuk pintu. Sebuah foto, sebuah bukti, dan hancurlah skenario film Hollywood yang kususun di kepala. Ternyata pria 'baik-baik' ini adalah seorang gamer profesional di bidang perasaan. Dan sayangnya, aku bukan pemain, aku adalah objek permainannya.
Aku tidak menangis meraung-raung. Aku terlalu lelah untuk itu. Dengan jempol yang mantap, aku mengirimkan pesan terakhir yang paling memuaskan dalam hidupku:
Aku: "Gameboy❤. Tolong balas dan jelaskan semuanya!"
Dia: "Sudah tidak ada yang perlu dijelasin lagi kan?"
Jawaban yang sangat pengecut. Maka, aku menutup tirai pertunjukan ini dengan satu kalimat pamungkas: "Oke, bye. Semoga bahagia🖕"
Bab 6: Epilog (Melodi Baru di Earphone-ku)
Waktu memang tidak pernah benar-benar menghapus kenangan, tapi ia hebat dalam mengubah cara kita melihatnya. Sekarang, setiap kali aku melewati kantor—atau bahkan toilet pria yang bersejarah itu—aku tidak lagi merasa ingin bersembunyi. Aku hanya tersenyum tipis, seolah menyapa versi diriku yang dulu pernah begitu lugu dan bersemangat.
Aku masih menyukai Laufey. Aku masih percaya bahwa hidup bisa seindah adegan film. Bedanya, sekarang aku bukan lagi penonton yang pasif, aku adalah sutradaranya. Aku yang menentukan siapa yang boleh masuk ke dalam frame hidupku, dan siapa yang harus segera dipotong dari naskah sebelum durasinya terlalu lama.
Karena pada akhirnya, hidup ini adalah sebuah film panjang, dan aku baru saja menyelesaikan bab prolog yang paling menantang. And now, the real story begins.
Selesai
Komentar
Posting Komentar